A. DEFINISI FILOSOFI
Filosofi berasal dari bahasa Yunani : philosophy yang berarti
menyukai kearifan “sesuatu yang memberikan gambaran dan berperan sebagai
tantangan untuk memahami dan menggunakan filosofi sebagai dasar untuk
memberikan informasi dan meningkatkan praktek tradisional”.
1.Chinn dan Krammer, 1991
“Suatu disiplin ilmu yang memperhatikan dan menggali dalil-dalil yang ada untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”
2. Pearson dan Vaugan, 1986
Garis besar filosofi adalah pendekatan berpikir tentang kenyataan,
termasuk tradisi agama,aliran yang dianut oleh keberadaa dan fenomena.
Jadi filosofi diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu disekitar kita dan apa penyebabnya.
Anggapan tentang filosofi :
1.
Elit, Hanya untuk golongan tertentu, bukan untuk konsumsi umum
2.
Sulit, Beberapa aspek dari filosofi sering dianggap sulit, kompleks dan berbelit-belit.
3.
Obscure, Dianggap sebagai hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari.
4.
Abstrak (tidak jelas)
Filosofi mencoba membangkitkan tingkat pengertian pada hal tertentu
yang dapat dihindari. Bagaimana fakta bahwa banyak filosofi adalah
abstrak tetapi tidak berarti bahwa hal tersebut tidk ada penerapan yang
nyata.
B. TINJAUAN KEILMUAN
Setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang
penyanggah tubuh pengetahuan yang disusun. Komponen tersebut adalah
ontoilogi, efistemologi dan aksiologi.
Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang
menjadi objek penelaahan (objek ontologi atau objek formal pengetahuan)
dan penafsiran tentang hakekat realitas (metafisika) dari objek
ontologis atau objek formal tersebut
Efistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan.
Aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut
- Pendekatan Ontologis
Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya
berada pada daerah-daerah dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek
penelaahan yang berada dalam batas pra pengalaman( penciptaan manuasia)
dan pasca pengalaman (surga dan neraka) diserahkan ilmunya kepengetahuan
lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak
pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologis
tertentu yaitu penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar
secara ilmiah.
Aspek kedua dari pendekatan ontologis adalah penafsiran hakekat
realitas dari objek ontologis pengetahuan. Penafsiran metafisik keilmuan
harus didasarkan pada karakteristik objek ontologis sebagaimana adanya
dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasi secara fisik yaitu
suatu pernyataan dapat dapat diterima sebagai premis dalam argumentasi
ilmiah setelah melalui pengkajian/penelitian berdasarkan efistemologis
keilmuan.
- Pendekatan Efistemologis
Landasan efistemologis ilmu tercermin secara operasional dalam metode
ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan
menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan ;
a). Kerangka pemikiran, yang bersifat logis dengan argumentasi yang
bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil
disusun
b). Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut
c). Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji
kebenaran pernyataan secara faktual. Secara akronim metode ilmiah
terkenal sebagai logica-hypotetico-verifikatif atau
deducto-hypotetico-verfikatif
Kerangka pemikiran yang bersifat logis adalah argumentasi yang
bersifat rasional dalam mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam.
Verfikasi secara empiris berarti evaluasi secara objektif dari suatu
pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini
menyatakan bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang
terkandung dalam hipotesis (mungkin fakta menolak pernyataan hipotesis).
Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai
sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan
berfikir kritis.
Disamping sikap moral yang secara implisit terkait dengan proses
logico-hypotetico-verifikatif tersebut terdapat azas moral yang secara
eksplisit merupakan yang bersifat seharusnya dalam efistemologis
keilmuan. Azas tersebut menyatakan bahwa dalam proses kegiatan keilmuan,
setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran yang
dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung
tertentu dan hak hidup yang berdasarkan argumentasi secara individual
c. Pendekatan aksiologis
Aksiologis keilmuan menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan
pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal maupun sosial. Nilai
internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh
pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal
menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan penggunaan pengetahuan
ilmiah. Nilai sosial menyangkut pandangan masyarakat yang menilai
keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu. Oleh karena itu, kode
etik profesi merupakan suatu persyaratan mutlak bagi keberadaan suatu
profesi. Kode etik profesi ini pada hakekatnya bersumber dari nilai
internal dan eksternal dari suatu disiplin keilmuan. Bangsa Indonesia
berbahagia karena kebidanan sebagai suatu profesi dibidang kesehatan
telah memiliki kode etik yang mutlak diaplikasikan kedalam praktek
klinik kebidanan.
Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk
keuntungan/berfaedah bagi manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan
sebagai saran atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan
memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan
kelestarian/keseimbangan alam. Untuk kepentiungan manusia tersebut maka
pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun merupakan milik bersama,
dimana setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya.
Universal berarti ilmu tidak mempunyai konotasi parokial seperti ras,
ideologi atau agama
- Tanggung jawab ilmuwan : Profesional dan Moral
Pendekatan ontologis, aksiologis dan efistemologis memberikan 18 azas
moral yang terkait dengan kegiatan keilmuan. Keseluruhan azas moral ini
pada hakekatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompk asas
moral yang membentu tanggung jawab profesional dan kelompok tanggung
jawab sosial
Tanggung jawab profesional ditujukan kepada masyarakat ilmuwan dalam
mempertanggung jawabkan moral yang berkaitan dengan landasan
efistemologis. Sedangkan tanggung jawab sosial yakni pertanggung jawaban
ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut azas moral mengenai
pemilihan etis terhadap objek penelaahan keilmuwan dan penggunaan
pengetahuan ilmiah.
C. Dimensi Kefilsafatan Ilmu Kebidanan
Keberadaan disiplin keilmuan kebidanan sama seperti keilmuan lainnya
ditopang oleh berbagai disiplin keilmuan yang telah jauh berkembang,
sehingga dalam perjalanan mulai dipertanyakan identitas dirinya sebagai
satu disiplin keilmuan yang mandiri. Yang sering dipertanyakan pada
pengetahuan kebidanan (Midwifery Knowledge) terutama berfokus kepada
tubuh pengetahuan kebidanan untuk bereksistensi sebagai satu disiplin
keilmuan yang mandiri. Lebih lanjut sering dipertanyakan adalah
ciri-ciri atau karakteristik yang membedakan pengetahuan kebidanan
dengan ilmu yang lain.
Berdasarkan komponen hakekat ilmu, maka setiap cabang pengetahuan
dibedakan dari jenis pengetahuan lainnya berdasarkan apa yang
diketahui(ontologi),bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan
disusu(efistemologi) serta nilai mana yang terkait dengan pengetahuan
tersebut(aksiologi). Oleh karena serta itu pengetahuan ilmiah mempunyai
landasan ontologi, efistemologi dan aksiologi yang spesifik bersifat
ilmiah. Artinya suatu pengetahuan secara umum dikelompokkan sebagai
pengetahuan ilmiah apabila dapat memenuhi persyaratan ontologi,
efistemologi dan aksiologi keilmuan.
Dimensi kefilsafatan keilmuan secara lebih rinci dapat dibagi menjadi tiga tingkatan karakteristik, yaitu :
- Bersifat universal artinya berlaku untu seluruh disiplin yang bersifat keilmuan.
- Bersifat generik artinya mencirikan segolongan tertentu dari pengetahuan ilmiah
- Bersifat spesifik artinya memiliki ciri-ciri yang khas dari
sebuah disiplin ilmu yang membedakannya dengan ilmu disiplin yang
lain.
D. Tubuh Pengetahuan Kebidanan
Disiplin keilmuan kebidanan mempunyai karakteristik dan spesifikasi
baik objek forma maupun objek materia. Objek forma disiplin keilmuwan
kebidanan adalah cara pandang yang berfokus pada ojek penelaahan dalam
batas ruang lingkup tertentu. Objek forma dari disiplin keilmuawan
kebidanan adalah mempertahankan status kesehatan reproduksi termasuk
kesejahteraan wanita sejak lahir sampai masa tuanya(late menopause)
termasuk berbagai implikasi dalam siklus kehidupannya.
Objek materi disiplin keilmuwan kebidanan adalah substansi dari objek
penelaahan dalam lingkup tertentu. Objek materia dalam disiplin
keilmuwan adalah janin, bayi baru lahir, bayi dan anak bawah lima tahun
(balita) dan wanita secara utuh/holistik dalam siklus kehidupannya
(kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia dini dan
lansia lanjut) yang berfokus kepada kesehatan reproduksi
Berdasarkan pikiran dasar, objek forma dan ojek materia, disusunlah
tubuh pengetahuan kebidanan yang dikelompokkan menjadi empat :
- Ilmu Dasar ;
- Anatomi
- Psikologi
- Mikrobiologi dan parasitologi
- Patofisiologi
- Fisika
- Biokimia
- Pancasila dan Wawasan Nusantara
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- Sosiologi
- Antropologi
- Psikologi
- Administrasi dan Kepemimpinan
- Ilmu komunikasi
- Humaniora
- Pendidikan (prinsip belajar dan mengajar
- Kedokteran
- Pharmokologi
- Efidemologi
- Statistik
- Teknik Kesehatan Dasar
- Paradigma Sehat
- Ilmu Gizi
- Hukum Kesehatan
- Kesehatan masyarakat
- Metode riset
- Dasar-dasar Kebidanan
- Teori dam model konseptual kebidanan
- Siklus kehidupan wanita
- Etika dan kode etik kebidnan
- Pengantar kebidanan profesional
- Teknik dan prosedur kebidanan
- Asuhan Kenbidanan dalam kaitan kesehatan reproduksi
- Tingkat dan jenis pelayanan kebidanan
- Legislasi kebidanan
- Praktek klinik kebidanan
- Ilmu-ilmu sosial :
- Ilmu terapan :
- Ilmu Kebidanan
E. TUJUAN FILOSOFI KEBIDANAN
“Memberikan persepsi tentang hal-hal yang penting dan berharga dalam memfasilitasi proses penanggulangan teori dan praktek “
FILOSOFI KEBIDANAN
Dalam kehamilan terdapat konsep psikologis dan perubahan sosial untuk
persiapan menjadi orang tua, terutama wanita, asuhan antenatal,
memberikan dukungan dan petunjuk serta membantu mereka dalam persiapan
menjadi orang tua.
Menurut ACNM ( 1996 ) :
1. Setiap individu mempunyai hak untuk meyakini bahwa setiap individu
mempunyai hak untuk merasa aman, mendapatkan pelayanan kesehatan yang
memuaskan dengan memperhatikan martabatnya.
2. Bidan meyakini bahwa kehamilan, persalinan merupakan proses yang normal
3. Asuhan kebidanan difokuskan kepada kebutuhan individu, keluarga untuk perawatan fisik, emosi dan hubungan sosial.
4.Klien ikut terlibat dalam menentukan pilihan.
5. Asuhan kebidanan berkesinambungan mengutamakan keamanan, kemampuan klinis dan tanpa intervensi pada proses yang normal.
6. Meningkatkan pendidikan pada wanita sepanjang siklus kehidupan
Menurut Maternity Services Advisory Commite, 1995 :
1.Dalam persalinan melibatkan partisipasi orang tua dan anggota keluarga dalam menentukan asuhan.
2. Pada masa postnatal setiap ibu harus diberi pedoman tentang perawatan bayi dan tenaga penolong.
3. Selama dirawat di RS, ayah dianjurkan utk terlibat dalam merawat bayinya.
8 prinsip dasar yang menggambarkan filosofi kebidanan
- vHubungan antara ibu dan bidan dalam memberikn asuhan yang baik.
- Ibu fokus dalam pemberian asuhan.
- Memberikan pilihan kepada ibu untuk melahirkan.
- Menggunakan seluruh keterampilan bidan.
- Asuhan yang berkesinambungan untuk wanita bersalin.
- Asuhan dasar dalam berkomunikasi.
- Bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.
- Memberikan asuhan yang ramah pada ibu dan bayinya.
FILOSOFI ASUHAN KEBIDANAN
Prinsif dalam asuhan kebidanan meliputi :
- Memberikan keamanan pada klien (safety)
- Memperhatikan kepuasan klien ( satisfying )
- Menghormati martabat manusia dan diri sendiri ( self determination)
- Mengormati perbedaan kultur dan etnik (respecting cultural and etnic divercity)
- Berpusat pada kontek keluarga
- Berorientasi pada promosi keluarga
Yang diharapkan bidan dalam memberikan asuhan
1. Disusun untuk kebutuhan ibu, bayi & keluarganya.
2. Didukung dengan perhatian kepada otonomi individu.
l3. Merencanakan hubungan dengan ibu dan keluarganya.
4. Wanita (keluarganya ) berhak secara penuh untuk menentukan dan memutuskan tentang rencana asuhan
5. Mempertimbangkan kebutuhan pendidikan yang meliputi : fisik, psikologi, sosial, budaya, spritual dan pendidikan.
6. Didasari pada penemuan yang sudah terbukti
7. Memberitahu dengan penuh empati,konsekuensi, kepercayaan.
9. Mempunyai asuhan pendekatan secara sistematis terhadap penilaian, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
10. Menyadarkan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang fisiologis
hMemastikan sistem komunikasi yan efektif antara bidan, wanita dan keluarga serta tenaga kesehatan yang lain
11. Mengakui pentingnya perawatan yang berkelanjutan dalam ilmu kebidanan
NILAI DAN KEPERCAYAAN KEBIDANAN
1. Respek terhadap individu dan kehidupannya
2. Fokus pada wanita dalam proses childbirth
3. Keterpaduan yang merefleksikan kejujuran dan prinsip moral
4. Keadilan dan kebenaran
5. Menerapkan proses dan prinsip demokrasi
6. Pengembangan diri di ambil dari pengalaman hidup dan prosespendidikan
7. Pendidikan kebidanan merupakan dasar dari praktik kebidanan
KEPERCAYAAN YANG HARUS DIPEGANG OLEH PROFESI KEBIDANAN
1. Setiap ibu adalah individu yang memiliki hak, kebutuhan, harapan dan keinginan.
2. Adanya profesi kebidanan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi
kondisi kkehamilan dan pelayanan yang diberikan pada wanita dan
keluarganya pada proses persalinan
3. Kesehatan yang akan datang tergantung pada kualitas asuhan yang diberikan pada calon ibu, calon ayah dan bayi.
4. Ibu dan bayi membutuhkan sesuatu yang bernilai sesuai dengan kebutuhannya.
PELAYANAN DAN PENDEKATAN DALAM PRAKTEK KEBIDANAN
1. Pelayanan Kebidanan primer, yaitu pelayanan kebidanan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan, diantaranya :
- Bidan berpegangan pada keyakinanan informasi klien untuk
melindungi hak akan privasi dan menggunakan keadilan dalam hal saling
berbagi informasi
- Bidan bertanggung jawab dalam keputusan dan tindakannya dan
bertanggung jawab untuk hasil yang berhubungan dengan asuhan yang
diberikan pada wanita.
- Bidan bisa menolak ikut serta dalam kegiatan yang berlawanan
dengan moral yang dipegang, akan tetapi tekanan pada hati nurani
individu seharusnya tidak menghilangkan pelayanan pada wanita yang
essinsial
- Bidan memahami konsekuensi yang merugikan dalam pelanggaran kode etik dan akan bekerjasama untuk mengurangi pelanggaran ini
- Bidan berperan serta dalam mengembangkan dan menerapkan
kebijaksanaan dalam bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan semua wanita dan pasangan usia subur (Revisi Mei 1999)
2. Pelayanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh
bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan
atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan
kesehatan
3. Pelayanan Kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh
bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau
sebaliknya, yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima
rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang
dilakukan oleh bidan ketempat atau fasilitas pelayanan kesehatan lain
secara horisontal maupun vertikal.